Sunday, December 30, 2007

Laporan Akhir Tahun

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebelumnya, saya ucapkan Selamat Tahun Baru 2008 ya!!!:D Semoga di tahun yang baru ini segalanya bisa menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Hmm... laporan akhir tahun, seperti bank saja ya. Hehe..:)) Yah, di penghujung tahun 2007 ini saya akan mengevaluasi apa saja yang sudah saya capai dan apa yang belum saya capai. Nah, nantinya saya pun akan memberikan list mengenai harapan-harapan saya di tahun yang akan datang.

Hal-hal yang sudah saya capai :
1. Berhasil lulus UN dengan total nilai yang memuaskan dan mendapat nilai sempurna di UN matematika. Alhamdulillah..
2. Masuk ke SMA N 3 Semarang yang merupakan salah satu sekolah terbaik di Semarang.
Saya senang sekali walaupun sebelumnya saya harus bekerja keras karena saingannya begitu banyak.
3. Berhasil membuat blog yang sekiranya layak untuk dilihat dan dibaca serta mendapat banyak teman yang menyenangkan karenanya. Saya pun jadi bertambah ilmunya karena membaca blog teman-teman semua :)
4. Berhasil lulus ujian MOSI (Menuju Olimpiade Sains Indonesia) Fisika. Sebelumnya saya posting di blog ini kalau saya tidak lolos MOSI matematika, tapi ternyata lowongan di mapel fisika masih ada. Jadi, saya ikut saja deh. Lagipula saya juga lebih tertarik pada fisika daripada matematika. :)
5. Berhasil menyelesaikan psikotest dengan baik sehingga memantapkan langkah saya untuk bisa masuk ke jurusan IPA.


Hal-hal yang belum saya capai :
1. Mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran saat UHT maupun UAS. Di SMA soalnya semakin lama semakin sulit. Sudah pakai bahasa Inggris, batas tuntasnya 75 pula.
2. Membeli buku-buku yang sampai saat ini masih saya impikan. Harganya mahal sekali sih. Jadi, saya pun harus menabung sedikit demi sedikit untuk membelinya.
3. Bisa memberikan sesuatu untuk orang tua saya di saat hari istimewanya dengan hasil jerih payah saya sendiri.
4. Menghilangkan sifat pelupa yang kadang sangat menyusahkan. Misalnya saya sering mencari-cari barang yang saya lupa menaruhnya dimana padahal barang itu sangat penting.

Hal-hal yang ingin saya capai di tahun 2008 :
1. Mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran.
2. Bisa masuk jurusan IPA. Amin.
3. Bisa menerima dan memahami semua pelajaran yang diajarkan dengan baik.
4. Membeli buku yang saya impikan.
5. Memberi sesuatu yang istimewa untuk orang tua saya.
6. Bisa berprestasi di MOSI Fisika. Doakan ya.. :)
7. Bisa menjadi orang yang lebih baik dalam perkataan, perilaku, maupun pemikiran daripada tahun yang sebelumnya.

Nah, beberapa wish diatas semoga dapat tercapai di tahun 2008. Amin.:)

Walaikumsalam Wr. Wb.
Read more...

Friday, December 28, 2007

Banjir dan Longsor di Akhir Tahun

Assalamualaikum Wr. Wb.

Di akhir tahun 2004 lalu, tsunami melanda Serambi Mekah, Aceh. Sekarang ni kita dikejutkan dengan berita musibah banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa kota di Pulau Jawa. Begitu banyak korban yang berjatuhan akibat musibah ini. Saya pun turut prihatin atas musibah ini dan saya berdoa agar musibah ini cepat berakhir. Amin.

Lalu, sebenarnya salah siapakah sampai-sampai begitu banyak kota di Pulau Jawa yang terendam banjir maupun tertimpa tanah longsor. Terlepas dari faktor alam, tentunya manusia masih berperan penting dalam terjadinya musibah ini. Kita tahu persis bahwa Pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya diantara pulau-pulau di Indonesia. Akibatnya banyak kawasan hutan yang dibuka untuk dijadikan lahan pemukiman. Sementara hutan-hutan yang tersisa pun ditebang pohonnya dengan sembarangan. Mungkin selama ini belum terlihat jelas dampaknya. Tapi, sekarang kita pun tahu begitu besar dampak akibat berkurangnya hutan di Pulau Jawa. Hujan yang mengguyur selama dua hari berturut-turut saja bisa menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor sebesar ini. Bagaimana jika hujan akan mengguyur selama enam bulan karena kita tahu Indonesia sekarang sedang dalam musim penghujan. tidak dapat membayangkan betapa besarnya dampak yang akan timbul.


Kita tahu bahwa hutan memiliki banyak fungsi, antara lain untuk menyimpan cadangan air dan menyerap air hujan sebelum alirannya sampai ke laut. Nah, bila hutan sudah berkurang akhirnya tidak ada lagi yang mampu menyerap air hujan sehingga air hujan pun mengalir begitu saja ke sungai. Hal inilah yang menyebabkan banjir bandang di daerah Sungai Bengawan Solo, seperti daerah Solo, Sragen, dan Madiun. Seolah tak ingin kalah, Sungai Serang dan Lusi pun meluap dan menyebabkan banjir bandang di daerah Kudus. Meluapnya sungai-sungai tersebut juga disebabkan banyaknya manusia yang seenaknya membuang sampah di sungai. Hal ini menyebabkan tertimbunnya sampah-sampah itu ke dasar sungai sehingga sungai pun akan menjadi dangkal dan akhirnya sungai yang dangkal itu pun tak mampu menahan air hujan yang begitu banyak.

Sungguh saya tak pernah membayangkan betapa serakah dan jahatnya manusia sampai mereka membiarkan tangan-tangan mereka dengan seenaknya merusak alam. Kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang. Tapi, setidaknya kita harus melakukan upaya preventif untuk mencegahnya. Upaya itu antara lain dengan tidak membuka kawasan hutan lagi untuk pemukiman. Kita tahu betapa jauhnya perbandingan antara kawasan hutan dan lahan pemukiman di Pulau Jawa. Berapa banyak hutan di Pulau Jawa. Setahu saya, saya tidak pernah mendengar ada hutan yang cukup luas di Pulau Jawa. Upaya lainnya yaitu tidak menebang pohon sembarangan karena satu pohon saja sangat berarti untuk menyimpan cadangan air. Selain itu, jangan biarkan diri kita membuang sampah di sungai yang menyebabkan dangkalnya sungai. Beberapa upaya di atas jika dilakukan dengan sungguh-sungguh mungkin bisa mencegah atau sekedar mengurangi dampak musibah apabila musibah terjadi.

Walaikumsalam Wr. Wb.
Read more...

Monday, December 24, 2007

Kedewasaan dari Tayangan Televisi Kita

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebelumnya saya minta maaf karena akhir-akhir ini saya jarang posting. Yah, akhir-akhir ini saya disibukkan oleh ulangan akhir semester satu. Jadi, saya jarang sekali posting dan belum bisa membalas semua pesan atau komentar teman-teman. Bahkan ulangan itu belum selesai karena hari rabu besok saya masih ulangan. Hiks..hiks...

Nah, tema yang akan saya bahas kali ini adalah kedewasaan yang berasal dari tayangan televisi kita. Kita tahu dan menyaksikan sendiri betapa kualitas tayangan televisi kita kian hari kian memburuk. Entah karena para pemilik televisi, sineas atau penikmatnya sendiri yang membuatnya jadi begitu. Tayangan televisi kita sekarang cenderung mengedepankan dilema pacaran dan kekerasan. Begitu banyak sinetron yang menayangkan anak-anak yang berpacaran, saling berebut pacar, atau bahkan hal yang lebih mendalam dan mengiris hati lagi... pergaulan bebas. Sinetron-sinetron tersebut seolah membentuk sebuah imej : "Di dunia ini hanya ada cinta dan tidak ada masalah lain yang perlu diurus selain cinta". Begitu besarnya antusias para sineas kita untuk membangun tema cinta dalam sebuah sinetron sungguhlah keterlaluan. Betapa seringnya kita melihat sinetron yang menggambarkan anak SMP (atau bahkan SD) sudah berpacaran, saling bersaing untuk mendapatkan kekasih pujaan hati, bahkan sampai melakukan adegan gaya pacaran orang dewasa (bergandengan tangan, kencan , pelukan, dan ciuman).


Ketika saya menjalani UN tahun kemarin, saya sempat berpikir betapa jauhnya perbedaan keadaan di sinetron dengan di kehidupan nyata. Di sinetron selalu digambarkan sosok pelajar yang lebih sering mengurusi dilema percintaanya dibandingkan dengan kewajiban pelajar yang sesungguhnya. Sungguh keadaan yang berbeda dengan realita di mana saya dan teman-teman saya sedang berusaha keras menghadapi UN sementara di sinetron, pelajar selalu digambarkan senang berhura-hura dan pergi ke sekolah hanya sekadar memenuhi kewajiban keadaan yang seharusnya.

Sinetron juga kerap kali menampilkan kekerasan dalam rumah tangga. Contohnya tema yang sering diambil adalah tema ibu tiri selalu jahat pada anak tirinya. Persis seperti lagu saja ya. Selalu saja ada sinetron yang mengambil tema seperti itu. Padahal belum tentu juga setiap ibu tiri pasti jahat pada anak tirinya. Lebih dari itu sinetron dapat dengan mudahnya menampilkan berbagai adegan kekerasan yang tentu saja tidak manusiawi. Di sinetron, bisa digambarkan dengan mudah ayah menampar anaknya atau anak membentak keras ibunya.

Dampaknya tentu saja bisa ditebak dengan mudah. Anak-anak maupun remaja dalam berinteraksi selalu cenderung meniru atau mengimitasi sesuatu hal yang dilihat maupun didengar. Jadi, apa yang disajikan televisi, itulah dampak yang akan terjadi. Lihat saja di koran-koran banyak berita tentang pelajar yang membunuh pacar sendiri karena cemburu, pelajar yang bunuh diri karena cintanya ditolak, anak yang membunuh ayahnya karena tidak diberi uang, tawuran pelajar atau pelajar yang memperkosa anak di bawah umur. Berita-berita di atas tentu membuat kita geleng-geleng kepala atau mengelus dada. Belum lagi tindakan-tindakan yang selama ini dianggap sepele. Misalnya pacaran antar anak SMP (atau bahkan SD), memanggil teman sendiri dengan sebutan yang tidak pantas, membentak orang tua, atau tidak hormatnya murid terhadap guru. Hal-hal kecil di atas jika tidak segera diatasi tentu akan menimbulkan hal-hal yang lebih berat lagi.

Saya sering mendengar cerita tentang anak SD yang berpacaran atau bertengkar karena rebutan pacar dari ibu saya sendiri yang seorang guru di sebuah sekolah dasar. Ibu saya pernah bercerita bahwa salah satu muridnya ada yang berpacaran. Ketika anak yang berpacaran itu ditanya oleh ibu saya, dia hanya tersipu malu. Anak itu biasanya ketika berangkat sekolah atau berjalan selalu bergandengan tangan dengan pacarnya. Saya tertawa kecil sambil terheran-heran mendengarnya. Zaman saya SD saja yang namanya pacaran saya tidak tahu. Sekarang anak kelas satu SD saja sudah tahu yang namanya pacaran dan bagaimana cara berpacaran. Benar-benar suatu ”kedewasaan” yang terlalu cepat datang ya.

Pada akhirnya, kita pun bertanya, sebenarnya siapa yang salah? Mengapa begitu banyak hal buruk yang terjadi akibat televisi itu sendiri? Sebenarnya televisi merupakan salah satu media yang bagus untuk proses belajar. Tapi, dengan penuhnya stasiun televsi dengan tayangan-tayangan yang tak bermutu dan tak bermoral beginilah akibatnya. Para pemilik televisi selalu lebih mengutamakan keuntungan dari tayangan-tayangan tersebut daripada kemajuan pendidikan para penikmatnya. Dan yang lebih mengherankan lagi, kenapa juga kita mau dan dengan senang hati dibodohi dengan menerima begitu saja tayangan-tayangan yang tanpa makna itu. Nah lho! Padahal jika kita mau, kita bisa saja ”demo” dengan tidak menonton tayangan-tayangan itu. Kalau sudah begitu pemilik televisi tentu tidak akan menayangkan tayangan itu dan beralih ke tayangan lainnya yang lebih mendidik. Kalau perlu kita bisa saja mengganyang semua tayangan tak bermutu itu dan akhirnya pemilik televisi pun sadar kalau penikmat televisi Indonesia sudah tidak bisa dibodohi lagi dengan tayangan-tayangan itu. Nah, kita sendirilah yang menentukan sikap terbaik yang harus kita lakukan. Diam saja, hanya protes tanpa melakukan hal apa pun, atau kritis dengan tidak membiarkan tayangan tak bermutu meracuni generasi-generasi penerus kita.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...