Thursday, March 27, 2008

Speak Up Your Mind!

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebenarnya banyak generasi muda sekarang yang memiliki pemikiran-pemikiran yang cemerlang. Namun, banyak diantara mereka yang ragu dan takut untuk mengutarakannya. Beberapa diantaranya berkata kalau mereka punya banyak ide, tapi takut kalau tak diterima. Jika diminta menulisnya, mereka malas melakukannya. Lalu, hal apa yang bisa mengungkapkan isi hati dan pemikiran mereka?

Pujian maupun kritikan dalam penulisan selalu datang silih berganti. Kita tak bisa hanya meminta pujian saja yang datang. Tapi terkadang kritikan itu juga perlu untuk meningkatkan kualitas ucapan maupun tulisan kita. Pujian maupun kritikan itu anggap saja sebagai garam dan merica dalam semangkuk sup. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Jika tak ada garam, tentu rasanya tak akan enak. Rasanya ada sesuatu yang kurang. Begitu juga sebaliknya. Pujian terkadang membuat kita serasa di atas awan. Membuat kita besar kepala dan tak mau berusaha lagi. Sebaliknya kritikan malah membuat kita tergerak untuk memperbaiki kesalahan dan menambal kekurangan kita. Jangan malah membuat kita down. Kita harus berbesar hati dalam menerima segala kritikan sepedas apapun itu.


Mengutarakan pemikiran secara langsung dalam suatu forum diskusi atau pertemuan yang lainnya memang membutuhkan rasa percaya diri yang besar. Terkadang rasa grogi atau nervous datang menghampiri saya. Saat itu bisa-bisa apa yang sudah tersusun rapi di dalam pikiran, buyar dan hancur begitu saja tanpa sisa. Sehingga seakan-akan kita blank dan terdiam terpaku begitu saja. Namun, saat itu cobalah berpikir bahwa semua orang yang berada di depan kita adalah teman akrab kita sendiri. Anggaplah mereka semua sudah terbiasa mendengar kita berbicara. Mereka sudah terbiasa menertawakan dan mengejek kita jika kita berbicara salah dan sudah terbiasa menganggukkan kepala jika kita berbicara benar. Tetapi perlu diingat juga bahwa kita tetap harus menjaga sopan santun baik dalam bahasa maupun cara penyampaiannya. Dengan begitu, insya Allah, semuanya akan lancar tanpa ada hambatan.

Nah, hal apa lagi yang menghambat kita khususnya generasi muda mengutarakan pendapat? Utarakanlah pendapat itu, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Jangan takut salah karena belum tentu yang kita utarakan itu salah. Percayalah setiap yang kita utarakan itu pasti ada manfaatnya walaupun itu hanya sedikit.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Sekolah : Menciptakan Kerja atau Menciptakan Pekerja ?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sekarang ini seperti yang kita tahu, banyak orang-orang yang menganggur seusai kuliah atau bisa juga kesulitan mencari pekerjaan. Di sekitar lingkungan saya, saya sering melihat ada orang-orang yang kesulitan mencari pekerjaan sehingga akhirnya saya pun khawatir dan bingung : ingin menjadi seseorang yang bekerja atau seseorang yang mempekerjakan?

Di era globalisasi sekarang ini, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) yang bagus sangatlah diperlukan. Begitu banyak siswa maupun mahasiswa yang berusaha menuntut ilmu setinggi mungkin. Hingga terkadang ada juga yang mencapainya dengan sekolah ke luar negeri dengan harapan akan memuluskan masa depannya kelak. Namun, apakah itu semua cukup untuk menjawab tantangan era globalisasi yang cenderung ekstrem ini? Apakah itu cukup untuk membangun Indonesia? Kalau menurut saya, itu semua belum cukup.

Kita tahu Indonesia adalah negara yang cenderung menciptakan pekerja-pekerja melalui lembaga pendidikan (sekolah) pada umumnya. Sehingga kita bisa melihat apa hasilnya : pengangguran. Ya, pengangguran dimana-mana. Entah di kota-kota besar maupun di pelosok desa. Pengangguran adalah situasi dimana jumlah angkatan kerja lebih banyak daripada lapangan kerja yang ada. Menurut saya, pengangguran adalah masalah utama di Indonesia yang harus sesegera mungkin dicari solusinya. Hal ini disebabkan karena pengangguran bisa merangsang timbulnya masalah lain yang lebih berat. Misalnya kemiskinan yang sekarang kita juga bisa melihat faktanya di masyarakat.


Nah, mungkin bagi orang-orang yang berkecukupan, bersekolah di luar negeri bukanlah sesuatu yang memberatkan. Namun, bagi orang-orang yang kurang berkecukupan, sekolah di dalam negeri saja merupakan sesuatu hal yang mewah. Saya tahu bahwa mutu sekolah dalam negeri juga tak kalah bagusnya dengan luar negeri. Tapi, manusia seperti apakah yang dicetak oleh sekolah-sekolah di Indonesia? Manusia pekerja dan pencari kerja. Itulah jawab saya. Mengapa? Sekolah-sekolah di Indonesia tidak pernah mengajarkan bagaimana anak didiknya untuk bisa menciptakan lapangan kerja yang baru bagi banyak orang. Tetapi mereka mengajarkan bagaimana cara bersaing dan berebut untuk mendapatkan lowongan kerja yang sangat sedikit jumlahnya. Hal ini bisa dilihat dari cara berpikir siswanya. Cobalah bertanya pada para siswa itu : apakah cita-citamu? Bisa jadi dokter, desainer grafis, akuntan, dan lain sebagainya. Apakah ada yang menjawab wiraswasta atau seorang yang mampu membangun lapangan kerja bagi orang lain? Mungkin ada tapi sangat sedikit jumlahnya.

Sekolah mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat yang menurut saya bisa diterapkan dalam menghadapi masa depan kelak. Namun, alangkah lebih baik lagi jika sekolah juga mengajarkan bagaimana cara membangun lapangan kerja baru dan tidak bergantung pada lapangan kerja yang telah ada sekarang. Misalnya terdapat bagian dari standar kompetensi yang mengajarkan bagaimana lapangan kerja baru terbentuk dari usaha-usaha kecil, penjelasan tentang berapa lapangan kerja di Indonesia yang telah ada, berapa kekurangannya untuk menutupi angkatan kerja yang ada dan lain sebagainya. Jika setiap siswa dibekali ilmu untuk mencipta lapangan kerja tentunya ini akan membantu mengatasi pengangguran yang sulit diatasi dan bertambah jumlahnya setiap tahun. Selain itu, kita bisa mengimbangi negara-negara luar yang cenderung terus membuat inovasi untuk menciptakan lapangan kerja yang baru. Harapan yang amat sederhana. Namun, mungkin sangat bermanfaat bagi Indonesia kelak. Amin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Live In Report (Part III)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Wah, ini dia cerita penutup dari kegiatan live in saya di Kendal. Baca ya... Jangan lupa beri komentar :)

Rabu, 9 Januari 2008

Pukul 05.00 WIB, kami bangun seperti biasa. Selesai, shalat, mandi, dan sarapan, saya dan teman saya pergi ke kebun jambu biji lagi. Sebenarnya kami ada rencana ke Air Terjun Curugsewu. Namun, kami tidak ikut. Kali ini kami tidak naik mobik pick up tetapi naik bus.


Setelah sampai, kami segera membungkus jambu biji lagi. Kami memulai membungkus dari pohon yang paling ujung. Kali ini kami membungkus bersama lima orang termasuk saya. Cukup banyak dibandingkan kemarin yang hanya tiga orang. Kami pun bekerja sampai sekitar pukul 11.00 WIB. Kami membersihkan diri di gubuk sebelum pulang. Kami melihat banyak cangkok jambu biji. Nantinya, cangkok itu akan ditanam di dalam polybag dulu baru kemudian ditanam di lahan lain. Kata keponakan orang tua asuh saya, jambu biji tersebut biasa dipanen tiga hari sekali. Jambu biji yang sudah dipanen nantinya akan dijual. Harga sekilonya hanya sebesar Rp 3.000,00. Kata dia, dulu harganya pernah mencapai Rp 6.000,00 karena waktu itu masih jarang yang menanamnya. Bila musim kemarau tiba, hujan jarang turun sehingga kebun jambu biji tersebut akan disiram. Caranya, di samping kebun tersebut dibuat semacam parit kecil yang terhubung dengan sungai yang ada di dekat situ. Jadi, nantinya air akan mengalir dari sungai ke kebun melalui parit itu.

Kamis pagi saya dan teman-teman pulang. Ada beberapa orang tua asuh teman saya yang sampai menitikkan air mata karena akan berpisah. Wah, jadi terharu... Hiks... Sebelum saya pulang, orang tua asuh saya membawakan oleh-oleh dalam sebuah kardus : dua ikat pete, cangkokan jambu biji, dan seplastik kacang. Wueleh... Ckckck.. beratnya.. masya Allah... Sampai-sampai di dalam bus kardusnya jebol karena tidak kuat menahan beban yang begitu berat. Tapi, saya berterima kasih sekali. Terima kasih ya, Pak, Bu.. Maaf sudah merepotkan. Hehe..

Nah, sekian cerita saya selama kegiatan live in. Kegiatan yang menurut saya membawa banyak manfaat. Semoga kegiatan seperti ini bisa diadakan lagi. :)

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...