Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts

Sunday, June 21, 2009

Catatan dari Catatan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Catatan dari catatan. Empat paragraf. Tak layak disebut cerpen, tak pantas disebut syair. Hanya sekadar catatan dari hiruk-pikuk jalanan siang itu.

Pagi menjelang siang. Terik matahari menyemangati peluh yang terus mengalir. Puluhan atau bahkan ratusan bapak-ibu berebut jalan. Masing-masing menuju tujuan yang sama. Sekolah. Mau menuntut ilmu lagikah? Tentu bukan, kawan. Mereka berencana mengambil catatan putra-putrinya.

Detik jam ikut menunggu dibagikannya catatan itu. Diawali dengan sedikit basa-basi seorang berbaju krem kecoklatan yang (katanya) memberi pengarahan dan saran. Aku memilih menunggu di luar sambil memperhatikan lalu-lalang bapak-ibu. Menyimak dengan seksama topik yang dibicarakan.


Mereka saling membanggakan angka-angka yang berderet rapi di dalam catatan masing-masing. Seolah beradu mulut melebihi debat capres yang monoton itu. Saling serang tanpa henti sampai ada salah satu yang mengalah. Atau lebih tepatnya sang anak yang tak sabar dan tertekan, merengek pulang. Sebagian orang menyingkir dan merasa lebih baik menyimpan rapat catatan itu dibalik kemeja, membiarkan tinta merahnya basah oleh keringat. Bahkan kalau perlu luntur saja sekalian. Harap mereka.

Lewat satu fase. Bapak datang dengan buku catatan abu-abu. Kupandangi catatan itu. Hanya sebuah catatan biasa yang berisi namaku dan angka-angka. Apa menariknya? Tapi anehnya aku selalu berusaha menghitamkan semua tintanya. Padahal tinta hitam toh banyak dijual dimana-mana. Aku alergi kalau angkanya kurang dari tujuh puluh lima. Padahal hanya sekadar batas yang tak nyata terlihat. Aku takut kalau kata ’naik’ digaris mendatar dengan sempurna. Padahal cuma satu kata yang tercoret. Sungguh begitu ajaibnya catatan ini! Magic mungkin. Ah, aku tahu. Satu fakta, hanya ini yang saat ini mampu membuat mereka bangga pada putra-putrinya. Termasuk padaku.

(Ditulis dengan ditemani catatan abu-abu bertinta hitam yang membuatku tersenyum.)
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Sunday, April 5, 2009

Demam Puitis

Assalamualaikum Wr. Wb.

Akhir-akhir ini entah kenapa saya jadi puitis dan berasa seorang penyair. Hehe... Sewaktu iiat langit biru, keluar kalimat yang indah dan jadi sebait puisi. Sewaktu dengar obrolan teman-teman, begitu juga. Sampai-sampai sewaktu tidur pun dipaksain bangun lagi cuma untuk mencatat kalimat yang ada di benak saya di hp sementara. Alhasil hp saya sekarang dipenuhi oleh kalimat-kalimat puitis yang jumlahnya lumayan banyak. Fiuuhh...

Sebenarnya sih saya senang-senang saja kalau lagi mode puitis. Saya pikir lumayan juga kesempatan ini dimanfaatkan untuk bikin puisi. Jadi nantinya kalau ada tugas bikin puisi, saya nggak perlu mikir lagi. Apalagi kalau disuruh bikin waktu bad mood. Wah, nggak bakal bisa keluar tuh idenya. Nah, mumpung lagi kena "Demam Puitis" saya nulis beberapa puisi deh. Contoh puisi yang saya buat:

Aku Terikat

Angin malam mengikatku menjadi satu
Menyeretku ke lembah manusia dalam
Meraih-raih
Akar kayu yang bergelantungan

Sepanjang malam aku terhenyak
Melihat udara panas di ubun-ubunku
Menyapa dirimu yang menari-nari dibawahnya
Mencoba menghirup hambarnya
Dadaku tergelitik
Berpaling tapi tak kunjung pergi

Aku terpaku
Pada dia yang mengikatku
Dan tertawa tak henti

Kira-kira menurut teman-teman blogger, apa isi puisi yang saya buat di atas nih? Kalau bisa lebih detail lagi, siapa "dia" di puisi itu. Saya pengen tahu pendapatnya. Mungkin aja apresiasi masing-masing orang kan berbeda. Oh ya, jawabannya dari saya bisa dibaca dibawah ini.


Dan jawabannya adalah...

Puisi "Aku Terikat" ini dibuat sewaktu saya mau tidur. Waktu itu, saya lagi sakit radang tenggorokan dan flu berat. Hampir sebagian besar teman-teman, pasti pernah kena flu ya. Nah, apa yang dirasain pas mau tidur? Susah tidur! Hahaha itulah yang saya rasakan. Susah tidur karena flu. Jadi, "dia" yang saya maksud itu adalah flu. Bukan teman, gebetan ataupun pacar! Siapa yang benar? Hayoo tunjuk jari!! Hehe.. Begini, saya jengkel karena batuk terus-terusan dan jadi nggak bisa tidur. Belum lagi radang tenggorokannya bikin sakit pas nelen ludah. Ya udah, diantara merem melek dan jengkel itu keluar kalimat demi kalimat di pikiran saya sampai membentuk puisi.

Hikmahnya : ternyata puisi bisa dibikin kapan saja. Termasuk sewaktu sakit juga. Dulu saya kira bikin puisi itu harus dengan suasana yang tenang dan pikiran yang jernih. Lagi jatuh cinta atau lagi patah hati. Ternyata nggak juga!

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...