Showing posts with label Opinion. Show all posts
Showing posts with label Opinion. Show all posts

Friday, February 19, 2010

Be A Right Man in The Right Place

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kurang lebih sebulan lagi dia akan datang. Dia yang datang tak dijemput pulang tak diantar akan menemui saya. Siapa? Jalangkung? Bukan, Kawan. Dia tak lain adalah Ujian Nasional (UN) dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Kalau bicara tentang dua hal itu memang tak ada habisnya. Apalagi selepas UN menuju UMPTN, dalam pikiran saya selalu terbersit pertanyaan : akankah pilihan jurusan yang saya ambil nanti adalah pilihan yang tepat? Atau sebenarnya saya punya peluang di bidang lain yang tidak saya sadari?
Read more...

Saturday, November 14, 2009

Kirim Wall ke Allah

Assalamualaikum Wr. Wb.

Berhubung internet di rumah terpaksa nggak bisa nyambung dulu karena rumah lagi direnovasi, jadilah saya ngenet di warnet. Huhuhu... Yah, habis semangat ngeblog lagi meluap-luap. Kan sayang kalau dibiarin. :D

Saya sering merenungkan sesuatu kalau lagi nganggur terutama kalau lagi sendirian seperti sekarang. Nah, kali ini saya jadi teringat akan pembicaraan saya dengan seorang teman beberapa waktu yang lalu. Begini inti kutipannya...

Teman : "Kok belum baikan ya. Padahal aku udah berdoa lho!"
Saya : *diam*
Teman : "Eh, tapi doanya cuma baru satu kali ding!"
Saya : "Nah, mungkin itu. Harusnya doa itu yang banyak biar cepet dibalesnya sama Allah."
Teman : "Hahaha... Kok kayak bales wall di FB."
Saya : "He? Iya juga ya. Berarti doa itu kayak wall di FB ya. Semakin banyak kita berdoa, doanya jadi ada di urutan paling atas. Jadi, kemungkinan dilihat dan dibales yang punya makin besar."
Teman : "Hehe... Agak ngawur sih. Tapi bener juga."
Saya : "Iya, berarti kita harus banyak-banyak doa supaya Allah cepet balesnya."


Hm.. dialog yang cukup sederhana. Tapi maknanya cukup dalam. Lalu saya jadi berpikir-pikir. Kenapa ya orang-orang termasuk saya lebih ingat update status atau bales wall di FB daripada ingat dan berdoa sama Allah? Padahal berdasarkan teori yang ada dalam percakapan tadi, semakin banyak kita kirim wall ke Allah (baca:doa) makin besar dan cepat kemungkinan wall kita akan dibalas (baca: dikabulkan). Seperti di FB, kalau semakin sering kita berkomunikasi dengan sahabat kita, maka hubungan pun makin erat. Menurut saya, hal yang sama terjadi dalam hubungan kita dengan Allah, semakin sering kita ingat dan berkomunikasi denganNya, kita bisa selalu dekat denganNya.

Ya, memang saya nggak menampik kalau hal yang penting seperti ini sering terlewatkan dalam kehidupan sekarang tak terkecuali saya. Bahkan kalau berpikir tentang hal-hal lain yang senada pun banyak. Misalnya kenapa ya saya lebih sering baca komik daripada melantukan ayat-ayat suci Al Quran? Saya bisa meluangkan waktu untuk membaca komik sampai berulang-ulang bahkan sampai hafal setiap detil isinya. Sementara mengapa saya tidak bisa meluangkan sedikit waktu saja untuk membaca firman Allah yang isinya jauh lebih bermakna?

Saya ingin sekali bisa memperbaiki sikap saya ini. Membaca Al Quran berulang-ulang sampai-sampai saya bisa hafal isinya layaknya saya membaca komik. Ingat Allah sesering mungkin melebihi ingat untuk update status. Hm, saya ingin hidup saya seimbang. Antara dunia dan akhirat. Antara hubungan saya dengan sahabat-sahabat. Dan antara hubungan saya dengan Sang Pencipta diri saya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.


Read more...

Saturday, August 1, 2009

Pelajar Butuh Hiburan

Assalamualaikum Wr. Wb.

Seminggu setelah kembali ke rutinitas semula (baca:sekolah), rasanya capek. Gimana nggak capek. Di tahun ini sekolah saya menerapkan sistem moving class, artinya masing-masing pelajaran punya ruangannya sendiri. Terus bukan gurunya yang masuk kelas, tapi justru muridnya. Fuh, nggak kebayang setahun harus muter-muter keliling sekolah buat masuk kelas. Capeknyaa.... Belum lagi kalau habis olahraga, wuih, kakinya berasa lemes-lemes gimana gitu. Tapi ya toh, hitung-hitung olahraga juga sih. Biar sehat dan juga langsing (sekalian diet). Hehehe....

Naik kelas XII ini rasanya hari-hari berjalan cepat. Nggak tahu kenapa. Pagi sekolah, siang menjelang sore pulang, sorenya les kalau ada jadwalnya, malem pulang, akhirnya sampai rumah tepar dengan sukses! Begitu sampai rumah pinginnya sih dapat hiburan. Tapi sayangnya ya nggak ada. Mau main komputer, nanti keterusan. Mau baca komik, nanti nggak belajar. Mau makan, nanti tambah gendut (btw, makan emang hiburan ya? :P ). Akhirnya jalan satu-satunya adalah nonton tv. Kebiasaan saya tuh kalau lagi belajar, kurang afdol kalau nggak ditemani tv. Nah, kan klop tuh. Sekalian dapat hiburan, sekalian belajar juga. :D


Tapi acara tv kita kok makin lama makin nggak bagus ya? Apalagi kebanyakan sinetron. Aduh, mana nggak logis banget lagi jalan ceritanya. Ckckck... Sewaktu saya nengok salah satu sinetron, eh pemainnya malah genderuwo (0.o). Astagfirullah... Heran saya, kenapa juga makhluk alam lain ikutan main disitu ? Nggak logis banget kan. Rasanya saya jadi pingin teriak begini sama production house-nya :
Saya anak Indonesia dan saya sudah bosan dan muak nonton sinetron nggak mutu!!

Racun mata dan pembodohan masyarakat. Begitu komentar yang sering saya ucapkan kalau lagi lihat sinetron. Racun mata karena sering menampilkan adegan-adegan yang nggak pantas. Contoh : tampar-menampar. Lihat saja sinetron sekarang setiap episode paling nggak keluar satu tamparan. Ckckck... Selain itu, saya sebut juga sebagai pembodohan masyarakat karena banyak hal yang nggak sesuai kebiasaaan sehari-hari. Nggak sesuai realita. Nggak real.

Hmm... sebenarnya saya capek juga mengulas masalah sinetron yang nggak kunjung ada perbaikannya itu. Tapi apa daya, ini jeritan hati seorang pelajar yang butuh hiburan. Ayo, tolonglah para pembuat sinetron Indonesia, berikan saya hiburan yang bermutu! Setuju kan?

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Wednesday, June 17, 2009

Belajar dan Mengingat lewat Cerita

Assalamualaikum Wr. Wb.

Entah kenapa selesai semesteran kemarin, saya mikir begini : ‘Kenapa ya buku pelajaran kok bentuknya nggak menarik banget. Isinya cuma tulisan-tulisan dan sesekali gambar. Kalau begini kan nggak enak buat belajar. Bikin bosen. Apalagi kalau dibaca berulang-ulang. Padahal kalau nggak dibaca terus nanti bisa lupa. Kalau udah lupa, nantinya nggak bisa ngerjain ulangan. Kalau nggak bisa ngerjain, nanti jelek nilainya. Kalau nilainya jelek, dimarahi ortu, Kalau... (Ah udah! kepanjangan!)’ Setelah itu saya mencoba untuk membandingkan dengan cerita novel atau komik. Nggak tau kenapa kok ya saya cepat ngeh sama isinya ya. Bahkan ada juga yang sampai hafal setiap detil ceritanya saking sukanya. Ckckck...


Itulah tema yang akan saya bahas. Kenapa otak lebih cepat merespon dan mengingat data yang berupa cerita daripada yang bukan. Dari buku Cara Baru Mengasah Otak dengan Asyik karangan David Gamon, Ph.D. dan Allen Bragdon yang saya baca, ternyata hal yang mempengaruhi hal ini adalah emosi. Terpicunya emosi bisa meningkatkan pembentukan ingatan. Dalam novel ataupun komik, kita terbawa oleh alur cerita yang disusun dengan emosi. Kita sebagai pembaca seolah-olah ikut dalam cerita itu. Kita jadi tidak merasa bosan dan menikmatinya, sampai-sampai kita mengerti dan ingat apa yang diceritakan. Contohnya nih, saya jadi tahu dan mengerti igo setelah saya membaca komik Hikaru No Go. Selain itu, pengetahuan saya tentang olahraga juga bertambah. Misal : basket lewat Slam Dunk, sepak bola lewat Whistle! dan american football lewat Eyeshield 21. Sewaktu pertama kali saya baca juga nggak paham. Tapi dengan penjelasan yang tidak berkesan menggurui dan menyenangkan lewat cerita, lama-lama saya jadi paham benar. Misal apa itu yang disebut Igo? Bagaimana aturan-aturannya? Bagaimana pengaturan nilainya? dan lain sebagainya. Selain itu, saya juga nggak merasa bosan untuk membacanya lagi. Bandingkan dengan buku pelajaran. Wuih, boro-boro diulang, baca sekali saja sudah bikin saya pusing dan ngantuk. Dan akhirnya menyerah untuk membacanya.

Saya kemudian membayangkan kalau saja lks olahraga saya diganti dengan novel atau komik yang berhubungan dengan olahraga. Jadi sewaktu mau semesteran guru saya bilang : ‘Ya, untuk bahan ukk pelajari komik ..., ...., dan ... ya.’ Hahahaha... nggak mungkin bangetlah. Kalau benar begitu, saya pasti langsung bisa paham daripada harus berulangkali baca lks tapi tetep nggak ngeh.

Sebenarnya kebiasaan malas baca buku pelajaran nggak baik juga sih. Saya membayangkan nanti kalau sudah kuliah, pasti akan berkutat dengan buku-buku tebal nan berat yang jumlahnya bejibun. Fuuhh... Dan tentunya, buku-buku itu nggak mungkin full color kan? (sambil membayangkan buku-buku full color dengan ilustrasi yang lucu nan imut yang sering dibaca anak-anak TK). Nah, inilah problem utamanya!

Dalam buku yang sama yang saya baca tadi, disebutkan pula beberapa cara yang dapat meningkatkan efektivitas belajar dan mengingat kita (mau bagi-bagi tips nih ceritanya) :
1. Membayangkan data yang dipelajari dan ingin diingat. Jadi bentuk visualnya gitu.
2. Belajar setelah makan. Penelitian membuktikan bahwa glukosa dapat meningkatkan ingatan, bahkan pada penderita Alzheimer.Ternyata benar juga nasihat yang mengatakan : makan dulu baru belajar (ini sih kebiasaan saya. Hehe...)
3. Memberikan sedikit tekanan pada diri. Disebutkan bahwa stres mengeluarkan hormon glukortisoid yang dalam kadar yang rendah dapat meningkatkan pembentukan ingatan jangka panjang. Tapi dalam kadar yang tinggi malah justru menghambat kita dalam mengingat. Karena itu, nggak ada salahnya juga kita berkoar-koar dalam hati : aku harus bisa!
4. Menghubungkan objek-objek data yang ingin diingat dengan merangkainya menjadi sebuah cerita. Seperti yang saya jelaskan di atas, cara ini cukup baik dan efektif. Akan tetapi, buatlah cerita yang lebih mengandung unsur emosi.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Sunday, February 8, 2009

Cara Ngawur Menghadapi Banjir : Pemikiran Frustasi Seorang Pengamat dan Penikmat Banjir

Assalamualaikum Wr. Wb.

Akhir-akhir ini sering tersiar kabar tentang banjir. Masalah klasik ini nggak pernah surut dan menjadi langganan tetap di Indonesia. Apalagi pas musim hujan seperti saat ini. Wuih, udah kayak kolam renang jumbo aja nih negeri kita. Semarang, kota tempat tinggal saya ini, nggak kalah dari Jakarta. Apanya? Ya, banjirnya lah. Memang nggak se-ekstrem ibukota yang tingginya sampai satu meter lebih sih. Mungkin ada juga yang tingginya sampai segitu tapi hanya karena nggak dipublikasikan saja jadi saya nggak tahu. Hehe... Tapi, yang namanya banjir ya tetap begitu. Dingin. Lembab. Dan yang pastinya BASAH! Banjir itu sama sekali nggak enak. Mau tingginya semeter lebih atau cuma semata kaki aja, yang namanya banjir tetep bikin kita nggak nyaman.

Ketika melihat berita banjir di televisi, saya mencoba membayangkan kalau misalnya saya ada di posisi mereka yang kena banjir. Rumah saya kemasukkan air yang tingginya nggak kalah sama kolam renang. Aliran listrik dan telepon terputus karena banjir. Alat-alat elektronik yang nggak sempat diamankan jadi rusak kemasukkan air, termasuk komputer kesayangan yang saya gunakan untuk menulis postingan ini. Buku-buku yang nggak saya sayang (baca : buku pelajaran) dan buku-buku yang amat saya sayangi (baca : komik) basah semua dan tintanya luntur. Sekolah diliburkan sementara (hore!!!). Tetangga-tetangga sebelah pada ngungsi di tempat yang lebih tinggi. Saya dan sekeluarga mau nggak mau juga ikutan ngungsi kayak mereka. Dan akhirnya, yang paling kejam dan mengerikan buat saya : pasokan komik ditunda sementara karena penerjemahnya kena banjir juga! Tidaaakkk!!!! (Tiba-tiba tersadar dari lamunan akibat kejedot monitor)


Fiuhh...Ya begitulah sekilas pemikiran saya yang terlalu didramatisir (baca : berlebihan) tentang banjir. Nah, coba deh, teman-teman ikut membayangkan juga kalau seandainya rumah teman-teman kena banjir (Ps : ingat, jangan terlalu berlebihan karena bisa menyebabkan halusinasi hingga susah tidur. Hehe! ). Sudah membayangkannya? Takut? Kalau begitu jangan khawatir karena Aura punya sedikit cara persiapan menghadapi banjir yang nggak bisa dibilang benar :

1. Belilah pelampung. Kalau perlu pelampung yang super besar atau perahu karet sekalian buat sekeluarga. Hal ini penting bagi teman-teman yang nggak bisa renang. Kalau pelampung, lebih bagus yang ada kepala bebeknya. Karena bila ada Tim SAR yang mencari, maka mudah ditemukan karena kuning dan mencolok.

2. Belajarlah berenang bagi yang belum bisa. Ini adalah salah satu poin yang krusial. Mengapa? Karena bila pelampung yang kita beli tadi bocor atau lupa dipompa, maka kita bisa menggunakan skill berenang kita. Boleh gaya apa saja. Katak, punggung, dada, atau bebas. Yang penting bukan gaya batu!

3. Buatlah catatan barang-barang penting yang harus diamankan. Misalnya komputer (biar ngeblog tetap jalan), buku-buku kesayangan, ijazah sekolah, dll. Jangan lewatkan satu barang pun sebelum kita menyesal.

4. Persiapkan barang-barang yang biasa dibawa saat berkemah dalam satu tas khusus. Misal tenda, selimut dan pakaian secukupnya. Ini berguna disaat kita berada di kamp pengungsian bila kita terpaksa mengungsi.

5. Isilah pulsa sebanyak-banyaknya. Karena bila banjir sudah tiba, maka sebagian besar penjual pulsa akan tutup. Selain itu, kita juga malas berenang untuk membeli. Oleh karena itu, belilah pulsa yang banyak untuk bertegur sapa dengan sanak saudara di kamp pengungsian yang lain.

6. Belilah lilin dan korek api yang banyak. Menurut insting dan perkiraan Aura, PLN akan memadamkan arus listrik. Sehingga suasana akan gelap dan dingin. Lilin yang bercahaya bisa memberikan kehangatan walau sementara.

7. Charge HP , Laptop dan Lampu Emergency yang kita punya mumpung PLN belum memadamkan arus listriknya. Karena meskipun HP kita sudah diisi pulsanya, percuma juga kalau batereinya habis. Mempersiapkan baterei cadangan juga berguna kalau-kalau kita terlalu asyik nelepon atau nge-games di kamp pengungsian.

Nah, ada 7 cara persiapan menghadapi banjir versi Aura. Bagi teman-teman yang punya cara-cara lain. Silakan saling berbagi dengan Aura.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Thursday, March 27, 2008

Speak Up Your Mind!

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebenarnya banyak generasi muda sekarang yang memiliki pemikiran-pemikiran yang cemerlang. Namun, banyak diantara mereka yang ragu dan takut untuk mengutarakannya. Beberapa diantaranya berkata kalau mereka punya banyak ide, tapi takut kalau tak diterima. Jika diminta menulisnya, mereka malas melakukannya. Lalu, hal apa yang bisa mengungkapkan isi hati dan pemikiran mereka?

Pujian maupun kritikan dalam penulisan selalu datang silih berganti. Kita tak bisa hanya meminta pujian saja yang datang. Tapi terkadang kritikan itu juga perlu untuk meningkatkan kualitas ucapan maupun tulisan kita. Pujian maupun kritikan itu anggap saja sebagai garam dan merica dalam semangkuk sup. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Jika tak ada garam, tentu rasanya tak akan enak. Rasanya ada sesuatu yang kurang. Begitu juga sebaliknya. Pujian terkadang membuat kita serasa di atas awan. Membuat kita besar kepala dan tak mau berusaha lagi. Sebaliknya kritikan malah membuat kita tergerak untuk memperbaiki kesalahan dan menambal kekurangan kita. Jangan malah membuat kita down. Kita harus berbesar hati dalam menerima segala kritikan sepedas apapun itu.


Mengutarakan pemikiran secara langsung dalam suatu forum diskusi atau pertemuan yang lainnya memang membutuhkan rasa percaya diri yang besar. Terkadang rasa grogi atau nervous datang menghampiri saya. Saat itu bisa-bisa apa yang sudah tersusun rapi di dalam pikiran, buyar dan hancur begitu saja tanpa sisa. Sehingga seakan-akan kita blank dan terdiam terpaku begitu saja. Namun, saat itu cobalah berpikir bahwa semua orang yang berada di depan kita adalah teman akrab kita sendiri. Anggaplah mereka semua sudah terbiasa mendengar kita berbicara. Mereka sudah terbiasa menertawakan dan mengejek kita jika kita berbicara salah dan sudah terbiasa menganggukkan kepala jika kita berbicara benar. Tetapi perlu diingat juga bahwa kita tetap harus menjaga sopan santun baik dalam bahasa maupun cara penyampaiannya. Dengan begitu, insya Allah, semuanya akan lancar tanpa ada hambatan.

Nah, hal apa lagi yang menghambat kita khususnya generasi muda mengutarakan pendapat? Utarakanlah pendapat itu, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Jangan takut salah karena belum tentu yang kita utarakan itu salah. Percayalah setiap yang kita utarakan itu pasti ada manfaatnya walaupun itu hanya sedikit.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Sekolah : Menciptakan Kerja atau Menciptakan Pekerja ?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sekarang ini seperti yang kita tahu, banyak orang-orang yang menganggur seusai kuliah atau bisa juga kesulitan mencari pekerjaan. Di sekitar lingkungan saya, saya sering melihat ada orang-orang yang kesulitan mencari pekerjaan sehingga akhirnya saya pun khawatir dan bingung : ingin menjadi seseorang yang bekerja atau seseorang yang mempekerjakan?

Di era globalisasi sekarang ini, kualitas dan kuantitas sumber daya manusia (SDM) yang bagus sangatlah diperlukan. Begitu banyak siswa maupun mahasiswa yang berusaha menuntut ilmu setinggi mungkin. Hingga terkadang ada juga yang mencapainya dengan sekolah ke luar negeri dengan harapan akan memuluskan masa depannya kelak. Namun, apakah itu semua cukup untuk menjawab tantangan era globalisasi yang cenderung ekstrem ini? Apakah itu cukup untuk membangun Indonesia? Kalau menurut saya, itu semua belum cukup.

Kita tahu Indonesia adalah negara yang cenderung menciptakan pekerja-pekerja melalui lembaga pendidikan (sekolah) pada umumnya. Sehingga kita bisa melihat apa hasilnya : pengangguran. Ya, pengangguran dimana-mana. Entah di kota-kota besar maupun di pelosok desa. Pengangguran adalah situasi dimana jumlah angkatan kerja lebih banyak daripada lapangan kerja yang ada. Menurut saya, pengangguran adalah masalah utama di Indonesia yang harus sesegera mungkin dicari solusinya. Hal ini disebabkan karena pengangguran bisa merangsang timbulnya masalah lain yang lebih berat. Misalnya kemiskinan yang sekarang kita juga bisa melihat faktanya di masyarakat.


Nah, mungkin bagi orang-orang yang berkecukupan, bersekolah di luar negeri bukanlah sesuatu yang memberatkan. Namun, bagi orang-orang yang kurang berkecukupan, sekolah di dalam negeri saja merupakan sesuatu hal yang mewah. Saya tahu bahwa mutu sekolah dalam negeri juga tak kalah bagusnya dengan luar negeri. Tapi, manusia seperti apakah yang dicetak oleh sekolah-sekolah di Indonesia? Manusia pekerja dan pencari kerja. Itulah jawab saya. Mengapa? Sekolah-sekolah di Indonesia tidak pernah mengajarkan bagaimana anak didiknya untuk bisa menciptakan lapangan kerja yang baru bagi banyak orang. Tetapi mereka mengajarkan bagaimana cara bersaing dan berebut untuk mendapatkan lowongan kerja yang sangat sedikit jumlahnya. Hal ini bisa dilihat dari cara berpikir siswanya. Cobalah bertanya pada para siswa itu : apakah cita-citamu? Bisa jadi dokter, desainer grafis, akuntan, dan lain sebagainya. Apakah ada yang menjawab wiraswasta atau seorang yang mampu membangun lapangan kerja bagi orang lain? Mungkin ada tapi sangat sedikit jumlahnya.

Sekolah mengajarkan berbagai ilmu yang bermanfaat yang menurut saya bisa diterapkan dalam menghadapi masa depan kelak. Namun, alangkah lebih baik lagi jika sekolah juga mengajarkan bagaimana cara membangun lapangan kerja baru dan tidak bergantung pada lapangan kerja yang telah ada sekarang. Misalnya terdapat bagian dari standar kompetensi yang mengajarkan bagaimana lapangan kerja baru terbentuk dari usaha-usaha kecil, penjelasan tentang berapa lapangan kerja di Indonesia yang telah ada, berapa kekurangannya untuk menutupi angkatan kerja yang ada dan lain sebagainya. Jika setiap siswa dibekali ilmu untuk mencipta lapangan kerja tentunya ini akan membantu mengatasi pengangguran yang sulit diatasi dan bertambah jumlahnya setiap tahun. Selain itu, kita bisa mengimbangi negara-negara luar yang cenderung terus membuat inovasi untuk menciptakan lapangan kerja yang baru. Harapan yang amat sederhana. Namun, mungkin sangat bermanfaat bagi Indonesia kelak. Amin.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Friday, December 28, 2007

Banjir dan Longsor di Akhir Tahun

Assalamualaikum Wr. Wb.

Di akhir tahun 2004 lalu, tsunami melanda Serambi Mekah, Aceh. Sekarang ni kita dikejutkan dengan berita musibah banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa kota di Pulau Jawa. Begitu banyak korban yang berjatuhan akibat musibah ini. Saya pun turut prihatin atas musibah ini dan saya berdoa agar musibah ini cepat berakhir. Amin.

Lalu, sebenarnya salah siapakah sampai-sampai begitu banyak kota di Pulau Jawa yang terendam banjir maupun tertimpa tanah longsor. Terlepas dari faktor alam, tentunya manusia masih berperan penting dalam terjadinya musibah ini. Kita tahu persis bahwa Pulau Jawa merupakan pulau yang paling padat penduduknya diantara pulau-pulau di Indonesia. Akibatnya banyak kawasan hutan yang dibuka untuk dijadikan lahan pemukiman. Sementara hutan-hutan yang tersisa pun ditebang pohonnya dengan sembarangan. Mungkin selama ini belum terlihat jelas dampaknya. Tapi, sekarang kita pun tahu begitu besar dampak akibat berkurangnya hutan di Pulau Jawa. Hujan yang mengguyur selama dua hari berturut-turut saja bisa menimbulkan bencana banjir dan tanah longsor sebesar ini. Bagaimana jika hujan akan mengguyur selama enam bulan karena kita tahu Indonesia sekarang sedang dalam musim penghujan. tidak dapat membayangkan betapa besarnya dampak yang akan timbul.


Kita tahu bahwa hutan memiliki banyak fungsi, antara lain untuk menyimpan cadangan air dan menyerap air hujan sebelum alirannya sampai ke laut. Nah, bila hutan sudah berkurang akhirnya tidak ada lagi yang mampu menyerap air hujan sehingga air hujan pun mengalir begitu saja ke sungai. Hal inilah yang menyebabkan banjir bandang di daerah Sungai Bengawan Solo, seperti daerah Solo, Sragen, dan Madiun. Seolah tak ingin kalah, Sungai Serang dan Lusi pun meluap dan menyebabkan banjir bandang di daerah Kudus. Meluapnya sungai-sungai tersebut juga disebabkan banyaknya manusia yang seenaknya membuang sampah di sungai. Hal ini menyebabkan tertimbunnya sampah-sampah itu ke dasar sungai sehingga sungai pun akan menjadi dangkal dan akhirnya sungai yang dangkal itu pun tak mampu menahan air hujan yang begitu banyak.

Sungguh saya tak pernah membayangkan betapa serakah dan jahatnya manusia sampai mereka membiarkan tangan-tangan mereka dengan seenaknya merusak alam. Kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang. Tapi, setidaknya kita harus melakukan upaya preventif untuk mencegahnya. Upaya itu antara lain dengan tidak membuka kawasan hutan lagi untuk pemukiman. Kita tahu betapa jauhnya perbandingan antara kawasan hutan dan lahan pemukiman di Pulau Jawa. Berapa banyak hutan di Pulau Jawa. Setahu saya, saya tidak pernah mendengar ada hutan yang cukup luas di Pulau Jawa. Upaya lainnya yaitu tidak menebang pohon sembarangan karena satu pohon saja sangat berarti untuk menyimpan cadangan air. Selain itu, jangan biarkan diri kita membuang sampah di sungai yang menyebabkan dangkalnya sungai. Beberapa upaya di atas jika dilakukan dengan sungguh-sungguh mungkin bisa mencegah atau sekedar mengurangi dampak musibah apabila musibah terjadi.

Walaikumsalam Wr. Wb.
Read more...

Monday, December 24, 2007

Kedewasaan dari Tayangan Televisi Kita

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sebelumnya saya minta maaf karena akhir-akhir ini saya jarang posting. Yah, akhir-akhir ini saya disibukkan oleh ulangan akhir semester satu. Jadi, saya jarang sekali posting dan belum bisa membalas semua pesan atau komentar teman-teman. Bahkan ulangan itu belum selesai karena hari rabu besok saya masih ulangan. Hiks..hiks...

Nah, tema yang akan saya bahas kali ini adalah kedewasaan yang berasal dari tayangan televisi kita. Kita tahu dan menyaksikan sendiri betapa kualitas tayangan televisi kita kian hari kian memburuk. Entah karena para pemilik televisi, sineas atau penikmatnya sendiri yang membuatnya jadi begitu. Tayangan televisi kita sekarang cenderung mengedepankan dilema pacaran dan kekerasan. Begitu banyak sinetron yang menayangkan anak-anak yang berpacaran, saling berebut pacar, atau bahkan hal yang lebih mendalam dan mengiris hati lagi... pergaulan bebas. Sinetron-sinetron tersebut seolah membentuk sebuah imej : "Di dunia ini hanya ada cinta dan tidak ada masalah lain yang perlu diurus selain cinta". Begitu besarnya antusias para sineas kita untuk membangun tema cinta dalam sebuah sinetron sungguhlah keterlaluan. Betapa seringnya kita melihat sinetron yang menggambarkan anak SMP (atau bahkan SD) sudah berpacaran, saling bersaing untuk mendapatkan kekasih pujaan hati, bahkan sampai melakukan adegan gaya pacaran orang dewasa (bergandengan tangan, kencan , pelukan, dan ciuman).


Ketika saya menjalani UN tahun kemarin, saya sempat berpikir betapa jauhnya perbedaan keadaan di sinetron dengan di kehidupan nyata. Di sinetron selalu digambarkan sosok pelajar yang lebih sering mengurusi dilema percintaanya dibandingkan dengan kewajiban pelajar yang sesungguhnya. Sungguh keadaan yang berbeda dengan realita di mana saya dan teman-teman saya sedang berusaha keras menghadapi UN sementara di sinetron, pelajar selalu digambarkan senang berhura-hura dan pergi ke sekolah hanya sekadar memenuhi kewajiban keadaan yang seharusnya.

Sinetron juga kerap kali menampilkan kekerasan dalam rumah tangga. Contohnya tema yang sering diambil adalah tema ibu tiri selalu jahat pada anak tirinya. Persis seperti lagu saja ya. Selalu saja ada sinetron yang mengambil tema seperti itu. Padahal belum tentu juga setiap ibu tiri pasti jahat pada anak tirinya. Lebih dari itu sinetron dapat dengan mudahnya menampilkan berbagai adegan kekerasan yang tentu saja tidak manusiawi. Di sinetron, bisa digambarkan dengan mudah ayah menampar anaknya atau anak membentak keras ibunya.

Dampaknya tentu saja bisa ditebak dengan mudah. Anak-anak maupun remaja dalam berinteraksi selalu cenderung meniru atau mengimitasi sesuatu hal yang dilihat maupun didengar. Jadi, apa yang disajikan televisi, itulah dampak yang akan terjadi. Lihat saja di koran-koran banyak berita tentang pelajar yang membunuh pacar sendiri karena cemburu, pelajar yang bunuh diri karena cintanya ditolak, anak yang membunuh ayahnya karena tidak diberi uang, tawuran pelajar atau pelajar yang memperkosa anak di bawah umur. Berita-berita di atas tentu membuat kita geleng-geleng kepala atau mengelus dada. Belum lagi tindakan-tindakan yang selama ini dianggap sepele. Misalnya pacaran antar anak SMP (atau bahkan SD), memanggil teman sendiri dengan sebutan yang tidak pantas, membentak orang tua, atau tidak hormatnya murid terhadap guru. Hal-hal kecil di atas jika tidak segera diatasi tentu akan menimbulkan hal-hal yang lebih berat lagi.

Saya sering mendengar cerita tentang anak SD yang berpacaran atau bertengkar karena rebutan pacar dari ibu saya sendiri yang seorang guru di sebuah sekolah dasar. Ibu saya pernah bercerita bahwa salah satu muridnya ada yang berpacaran. Ketika anak yang berpacaran itu ditanya oleh ibu saya, dia hanya tersipu malu. Anak itu biasanya ketika berangkat sekolah atau berjalan selalu bergandengan tangan dengan pacarnya. Saya tertawa kecil sambil terheran-heran mendengarnya. Zaman saya SD saja yang namanya pacaran saya tidak tahu. Sekarang anak kelas satu SD saja sudah tahu yang namanya pacaran dan bagaimana cara berpacaran. Benar-benar suatu ”kedewasaan” yang terlalu cepat datang ya.

Pada akhirnya, kita pun bertanya, sebenarnya siapa yang salah? Mengapa begitu banyak hal buruk yang terjadi akibat televisi itu sendiri? Sebenarnya televisi merupakan salah satu media yang bagus untuk proses belajar. Tapi, dengan penuhnya stasiun televsi dengan tayangan-tayangan yang tak bermutu dan tak bermoral beginilah akibatnya. Para pemilik televisi selalu lebih mengutamakan keuntungan dari tayangan-tayangan tersebut daripada kemajuan pendidikan para penikmatnya. Dan yang lebih mengherankan lagi, kenapa juga kita mau dan dengan senang hati dibodohi dengan menerima begitu saja tayangan-tayangan yang tanpa makna itu. Nah lho! Padahal jika kita mau, kita bisa saja ”demo” dengan tidak menonton tayangan-tayangan itu. Kalau sudah begitu pemilik televisi tentu tidak akan menayangkan tayangan itu dan beralih ke tayangan lainnya yang lebih mendidik. Kalau perlu kita bisa saja mengganyang semua tayangan tak bermutu itu dan akhirnya pemilik televisi pun sadar kalau penikmat televisi Indonesia sudah tidak bisa dibodohi lagi dengan tayangan-tayangan itu. Nah, kita sendirilah yang menentukan sikap terbaik yang harus kita lakukan. Diam saja, hanya protes tanpa melakukan hal apa pun, atau kritis dengan tidak membiarkan tayangan tak bermutu meracuni generasi-generasi penerus kita.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Sunday, October 28, 2007

Memaknai Sumpah Pemuda

Assalamualaikum Wr. Wb.

Kami putra-putri Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia
Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
Kami putra-putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia


Nah, sekitar 1,2,3...(sambil mengambil kalkulator) 79 tahun yang lalu ketiga kalimat di atas diucapkan di hadapan perwakilan dari berbagai organisasi pemuda yang datang. Pada saat itu semangat membara para pemuda untuk bersatu sangatlah kuat. Lalu apakah semangat itu masih tersisa saat ini atau bagaimanakah pelaksanaan Sumpah Pemuda setelah 79 tahun berlalu? Mari kita diskusikan lebih lanjut.

Pertama adalah kalimat mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia. Saya rasa semua orang memiliki rasa cinta pada tanah airnya masing-masing. Akan tetapi, mereka mungkin belum bisa mengungkapkan rasa cinta itu dengan tindakan-tindakan yang sesuai. Misalnya para pelajar yang gemar tawuran padahal jelas di atas disebutkan bahwa bertanah air satu yang artinya mempunyai rasa saling memiliki terhadap negara tercinta kita ini. Bahkan pertikaian yang sifatnya lebih luas seperti pertikaian antarsuku di Indonesia pun sering terjadi. Yang perlu dipahami dalam kalimat ini adalah kata "mengaku" yang diartikan mengaku dengan jiwa raga. Bukan mengaku hanya dibibir saja tanpa mendalami makna yang sesungguhnya dengan melakukan tindakan-tindakan yang mencerminkan ucapan kita itu.


Yang kedua adalah mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia. Bangsa adalah sekelompok manusia yang dipersatukan karena memiliki persamaan sejarah, cita-cita, karakter, dan hasrat yang terikat oleh tanah air yang sama. Dalam pengertian bangsa ini, kita dapat melihat bahwa setelah mengaku bertanah air satu kita pun mengaku berbangsa yang satu. Para pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda II pun bersatu dengan berbagai perbedaan tapi memiliki satu persamaan yaitu hasrat ingin menyatukan tanah air Indonesia. Jika dibandingkan dengan keadaan kita sekarang, kita terkadang malah lebih mencintai negara lain. Contohnya banyak saya temukan di sekitar saya. Teman-teman saya lebih menyukai negara Jepang dibandingkan Indonesia. Mereka lebih tahu sejarah, budaya, dan keadaan Jepang dibanding dengan Indonesia. Mereka sering berkata,"Indonesia itu apa? Lihat Jepang mereka jauh lebih maju daripada kita padahal mereka pernah dibombardir Amerika. Bagaimana dengan Indonesia? Sudah 62 tahun tapi tidak maju-maju juga." Saya akui saya sendiri pun menyukai manga Jepang tapi tidak sampai melupakan tanah kelahiran saya sendiri. Ingat jangan pernah melupakan tanah kelahiran kita sendiri meski bagaimanapun keadaannya.

Yang ketiga adalah menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Nah, hal ketiga inilah yang seringkali kita abaikan. Pemuda-pemudi sekarang lebih menyukai bahasa-bahasa gaul seperti gue, lo, dan sebagainya. Apakah kata-kata seperti itu ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia? Ya, mungkin saja ada setelah beberapa tahun lagi atau setelah pemerhati bahasa Indonesia sudah lelah dan mengalah untuk memasukkannya ke dalam kamus layaknya mantra-mantra Harry Potter yang dimasukkan ke dalam ejaan bahasa Inggris. Selain kata, definisi kata pun sering disalah artikan. Contohnya kata secara yang entah karena apa artinya menjadi sebab. Lalu pencampuran bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris yang sering terjadi. Misalnya so what gitu loh dan masih banyak lagi. Ingat bahasa menunjukkan bangsa. Kalau bukan kita yang menjaga dan membudayakan berbahasa Indonesia yang baik, siapa lagi yang akan melakukannya?

Tentu saja itu semua sedikit demi sedikit akan menggerogoti persatuan Indonesia. Pada awalnya memang baru bahasa saja yang dicampur-adukkan. Lama-lama rasa cinta tanah air pun akan ikut dicampur-adukkan. Untuk mencegah hal itu memang sudah selayaknya kita memahami betul bagaimana makna Sumpah Pemuda dan tentu saja mengamalkannya sesuai kemampuan kita. Nah, seberapa jauhkah kita mampu menjiwai makna Sumpah Pemuda? Hanya diri kita sendirilah yang mampu menilainya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Monday, September 17, 2007

Seberapa Efektifkah Pelajaran di Sekolah ?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sewaktu SD sampai SMA, kita selalu dijejali berbagai macam pelajaran, mulai dari yang bersifat eksakta, bahasa, jasmani sampai yang bersifat seni. Kita menerima pelajaran tersebut dengan terpaksa tanpa menghiraukan apakah kita menyukainya atau tidak, maupun berbakat atau tidak. Mungkin memang bagus jikalau kita mempelajari banyak hal. Akan tetapi, semakin lama pelajaran-pelajaran yang bukan merupakan bakat kita terasa menekan kita agar kita harus menguasainya. Kurikulum pendidikan Indonesia yang sekarang menggunakan KTSP mendorong para siswa agar aktif dalam setiap pelajaran. Akan tetapi, kita tidak pernah diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginan kita mengenai pelajaran apa yang ingin kita pelajari. Kita tahu benar bahwa bakat dan ketertarikan masing-masing orang berbeda-beda. Ada yang menyukai olahraga, ada pula yang menyukai matematika. Ketertarikan itu tentu saja didorong olek bakat dan kemmapuan seseorang hingga seseorang itu menyukainya.

Sudah lama Indonesia menerapkan sistem pembelajaran yang menyeluruh dari segala aspek. Efektif atau tidak itu tergantung dari penilaian kita masing-masing. Jika dikaitkan dengan perbedaan baakt dan ketertarikan seseorang, tentu saja hal ini sangat tidak efektif. Bagaimana tidak? Coba bayangkan jika seseorang yang menyukai olahraga harus dijejali dengan pelajaran matematika yang tidak ia kuasai maupun senangi. Bayangkan bagaimana tertekannya ia karena harus mendapat nilai yang bagus di pelajaran matematika tersebut. Sungguh sangat menyiksa, bukan?


Negara-negara lain seperti Singapura tampaknya sudah selangkah lebih maju dari kita. Mereka membebaskan para siswanya untuk memilih pelajaran apa yang akan mereka pelajari di sekolah sesuai bakat dan ketertarikannya masing-masing layaknya seorang mahasiswa. Mereka mungkin berpikir bahwa mengajarkan sesuatu hal yang tidak disukai siswa adalah hal yang percuma walaupun tidak mustahil dilakukan. Tentu saja lebih banyak percumanya daripada berhasilnya. Sekolah-sekolah Singapura tidak pernah memaksakan secara sepihak bahwa seluruh pelajaran harus kita kuasai dengan baik. Kita tidak dipaksa untuk ahli dalam sains jika kita lebih ahli dalam bahasa. Kita tidak dipaksa untuk menyukai olahraga jika kita lebih tertarik pada kesenian. Kita hanya diharuskan mendalami apa yang kita kuasai dan senangi.

Orang-orang luar pun melakukannya tanpa ada pandangan melecehkan terhadap suatu bidang tertentu. Orang-orang Indonesia selalu berpandangan bahwa bila masuk IPA(dalam penjurusan SMA)pasti siswa tersebut pintar dan dapat menaikkan prestise keluarga. Padahal belum tentu siswa tersebut berbakat di IPA. Mungkin saja sebenarnya dia hanya mengikuti kehendak orang tua dan kehendak lingkungannya dengan mengabaikan IPS yang dia kuasai dan senangi, misalnya. Satu hal lagi yang perlu ditekankan adalah bahwa kepintaran tidak hanya dilihat dari satu pandangan saja, melainkan dari segala pandangan, mulai dari eksak, seni, olahraga, bahasa, sampai kemampuan bersosialisasi dengan baik. Menurut saya, kepintaran adalah kelebihan yang pasti dimiliki masing-masing orang meskipun itu berbeda-beda. Maka dari itu, tidak ada yang namanya siswa bodoh di dunia ini jika siswa tersebut tidak menguasai satu bidang tertentu.

Belum lagi, sering terjadinya pergantian kurikulum yang membuat guru maupun murid kesulitan untuk menyesuaikan diri karena berbagai macam hal. Misalnya, buku-buku yang tidak sesuai dengan kurikulum, perubahan penyampaian materi pelajaran, sampai sistem penilaian yang berbeda dari sebelumnya. Hal ini tentu saja membuat proses belajar-mengajar di sekolah tambah tidak efektif lagi karena banyaknya halangan yang harus dilewati untuk memahami materi pelajaran.

Sekolah adalah wahana belajar yang seharusnya mampu memberikan kita ilmu-ilmu yang kelak dapat bermanfaat dalam kehidupan kita. Tapi, fakta yang terjadi belumlah cukup untuk membuktikan hal tersebut. Kita berharap semoga pendidikan di Indonesia dapat berjalan lebih baik lagi sehingga dapat mencetak generasi-generasi yang mampu meneruskan pembangunan negara ini. Amien

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Monday, July 30, 2007

Ketika Keterbatasan Berubah Menjadi Motivasi

Assalamualaikum Wr. Wb.

Hari ini, saya memutuskan untuk menulis tema ini karena saya melihat begitu besarnya motivasi timnas Irak sampai memenangkan Asean Cup semalam. Saya ucapkan selamat kepada timnas Irak. Semoga kemenangan ini dapat menjadi suatu motivasi bagi negara-negara lain terutama Indonesia. Amien...

Ya, saya sangat terkesan sekali melihat perjuangan timnas Irak. Karena di saat negara mereka porak-poranda dilanda perang dan dalam kondisi yang serba terbatas, mereka masih mampu menampilkan performa yang sangat mengesankan. Mungkin kita akan menyerah jika kita berada di posisi mereka. Kita mungkin berpikir tidak ada harapan lagi karena kondisi dan fasilitas tidak mendukung. Tapi, mereka tidak. Mereka justru menjadikan hal itu sebagai suatu motivasi. Mungkin saja mereka berharap bahwa dengan kemenangan ini, mereka dapat membuat warga Irak yang dilanda duka dapat tersenyum kembali, membuat rakyat yang bercerai-berai dapat bersatu kembali dan dapat menjadikan segalanya lebih baik dari sekarang. Saya pikir itu keinginan yang tidak muluk-muluk dan sangatlah mulia dalam keadaan seperti itu.

Sejak awal, saya memang mendukung Irak. Bukan karena Arab Saudi memblokir maskapai penerbangan kita atau hal yang lain. Tapi, karena saya ingin timnas Irak memberikan suatu pemikiran pada bangsa kita bahwa dalam keadaan tertekan dan terbatas pun, kita masih bisa melakukan sesuatu yang bahkan dapat menjadikan suatu kemenangan. Everything in our life is possible!

Hikmahnya adalah ketika kita berada dalam situasi yang tidak menguntungkan, jadikanlah itu sebagai motivasi tersendiri bagi kita untuk mencapai hal yang kita inginkan. Jangan bayangkan bahwa kegagalan yang akan datang, tapi bayangkanlah ketika kita tersenyum bahagia mendapati diri kita dalam keberhasilan. Saat itu, pasti kita akan sangat bangga terhadap diri kita sendiri karena kita mampu mencapai keberhasilan dengan situasi yang sempit. Ingat, keterbatasan tidak pernah membatasi motivasi tapi justru meningkatkannya.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Monday, July 23, 2007

Cita-Cita : Refleksi Diri Kita

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sewaktu kecil, kita sering ditanya oleh banyak orang : "Apa cita-citamu?". Biasanya kita menjawab dokter, insinyur, guru, polisi, atau arsitek. Memang pada saat itu kita belum mengerti bagaimana diri kita. Sehingga cita-cita yang kita ucapkan pun hanya berdasarkan apa yang kita ketahui. Namun, seiring berjalannya waktu, ketika pertanyaan itu diulang kembali, apakah jawaban kita sama seperti dulu? Ada yang ya ada juga yang tidak.

Banyak orang yang menganggap remeh suatu cita-cita. Saya pernah bertanya pada seorang teman tentang cita-citanya. Dia menjawab begini : "Apa ya? Aku nggak tau. Jadi orang baik kali ya?". Ya, walaupun menjadi orang baik juga merupakan suatu tujuan hidup, akan tetapi itu hanya mencakup sebagian dari diri kita. Saya pikir suatu cita-cita sangatlah penting bagi kita. Entah, itu akan berubah seiring bertambahnya umur kita atau tidak. Mungkin dulu kita hanya asal saja memilih suatu cita-cita. Namun, sekarang kita pasti sudah mengetahui apa yang benar-benar kita suka, kita bisa, dan kita kuasai.

Bagi saya, cita-cita merupakan suatu refleksi dari diri kita. Cita-cita merupakan suatu gambaran dari diri kita tentang sifat, bakat, maupun minat kita. Maka dari itu, janganlah pernah tidak mempunyai cita-cita sama sekali. Karena cita-cita juga merupakan tujuan hidup kita. Entah itu akan tercapai atau tidak. Akan tetapi, setidaknya kita sudah memiliki jalan hidup yang tidak akan menyimpang jauh dari harapan kita. Selain itu, janganlah sekali-kali memilih cita-cita yang tidak sesuai dengan sifat, bakat, maupun minat kita karena hal itu akan mempersulit jalan kita untuk mewujudkannya. Misalnya, jika kita berbakat menjadi atlet, tapi kita lebih memilih menjadi dokter karena faktor gengsi.

Jika sudah memiliki cita-cita, selalulah berusaha untuk mencapainya walaupun itu sulit, mustahil, dan kita berpikir tidak akan dapat mencapainya. Entah itu karena faktor ekonomi maupun lingkungan. Karena, jika kita berusaha, tentulah ada jalan bagi kita. Ingat, Allah tidak akan mengubah nasib suatu bangsa jika kita tidak berusaha mengubahnya. Maka dari itu, saya berpesan agar selalu berusaha mencapai cita-cita yang kita impikan. Tentunya dengan kegiatan-kegiatan yang dapat mendorong terwujudnya cita-cita tersebut. Semoga kita dapat mencapai apa yang kita inginkan. Amien ^_^

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Tuesday, July 17, 2007

Larangan Penerbangan Maskapai Indonesia

Assalamualaikum Wr. Wb.

Setelah beberapa waktu yang lalu dikejutkan oleh berita masuknya maskapai penerbangan Indonesia ke dalam blacklist Uni Eropa, sekarang Arab Saudi pun menyusul. Baik UE maupun Arab Saudi menyatakan bahwa maskapai penerbangan Indonesia dilarang melakukan aktivitas penerbangan apa pun di wilayah mereka. Saya berpikir betapa buruknya maskapai penerbangan Indonesia sampai-sampai UE maupun Arab Saudi memberlakukan larangan tersebut.

Saya tidak dapat memperkirakan berapa banyak kerugian yang akan dialami akibat larangan ini. Bagaimana tidak? Berapa banyak wisatawan-wisatawan asing yang akan berwisata ke Indonesia? Berapa banyak pula jamaah haji maupun TKI yang akan berangkat ke Arab Saudi melalui maskapai penerbangan Indonesia? Akankah kita harus meminjam pesawat luar negeri ataupun melakukan transit dulu di suatu negara? Bukankah hal itu akan sangat menguntungkan pihak luar?

Larangan ini memang merupakan suatu ketidakbijaksanaan luar negeri. Larangan ini dibuat sepihak tanpa adanya koordinasi terlebih dahulu sehingga saya melihat bahwa ini merupakan salah satu cara luar negeri untuk menangguk keuntungan dari negara kita.

Namun, di luar itu semua, tentunya kita harus lebih serius dalam mengintrospeksi diri mengenai masalah maskapai penerbangan kita. Kita harus belajar dari banyaknya kecelakaan-kecelakaan transportasi yang terjadi di Indonesia terutama pesawat terbang. Di mana seharusnya kita lebih serius dalam memperbaiki sistem transportasi kita. Buktikan pada dunia bahwa tidak akan ada lagi kecelakaan-kecelakaan transportasi yang disebabkan masalah teknis maupun nonteknis yang seharusnya dapat dicegah terlebih dahulu. Tentu saja itu di luar kehendak Allah Yang Maha Kuasa. Saya harap dengan adanya kejadian ini, maskapai penerbangan Indonesia dapat memperbaiki diri sehingga dapat menjadi lebih baik. Amien.

Wassalamualaikum Wr Wb. Read more...

Sunday, July 8, 2007

Perjuangan Merah Putih di Piala Asia

Assalamualaikum Wr. Wb.

Gaung Piala Asia telah terdengar sejak kemarin malam. Berbagai tim dari negara yang akan berlaga pun telah siap bertanding di grupnya masing-masing. Sementara itu, negeri kita tercinta ini menempati grup D bersama Bahrain, Arab Saudi, dan Korea Selatan. Dan tinggal dua hari lagi pertandingan perdana Indonesia melawan Bahrain akan berlangsung. Akan tetapi, antusiasme masyarakat untuk ikut serta mendukung Indonesia yang menjadi salah satu tuan rumah sangatlah kecil. Ya, memang sebagian besar suporter-suporter penggila bola telah bersedia mendukung dengan sukarela. Namun, dukungan dari masyarakat awam begitu sedikit. Bahkan jika tidak mengetahui berita Piala Asia dari media cetak maupun elektronik, mereka mungkin tidak akan tahu bahwa Indonesia menjadi salah satu peserta dan sekaligus salah satu tuan rumah. Seringkali saya dengar ketika saya berkata kepada teman-teman saya mengenai keikutsertaan Indonesia dikancah Asia, mereka berkata dengan entengnya : ”Ah, aku nggak mau lihat. Paling-paling juga kalah terus. Bikin malu saja. Mending nggak usah nonton. Lebih enak nonton Inggris.” Pernyataan mereka itu sungguh mengiris hati. Bagaimana tidak? Mereka lebih mendukung tim-tim negeri lain daripada tim tanah air mereka sendiri.

"Saya pikir kalah menang adalah hal yang biasa dalam suatu kompetesi. Dan satu hal yang perlu ditekankan adalah bahwa kalah bukanlah suatu hal yang memalukan. Tapi kalah sebelum bertanding itulah yang memalukan."


Dari dulu anggapan bahwa Indonesia adalah tim yang lemah tidak pernah lepas dari benak masyarakat Indonesia sendiri. Sungguh sangat memprihatinkan di saat bangsa ini butuh dukungan dari pemain ke-12 atau supporter yang setia mendukung di saat menang atau kalah. Hal inilah yang saya katakan kalah sebelum bertanding. Yaitu betapa lemahnya mental masyarakat bangsa Indonesia sampai-sampai merendahkan bangsanya sendiri. Memang dalam permainan sepakbola hanya dilaksanakan oleh 11 pemain. Akan tetapi, dukungan dari supporter merupakan suatu spirit tersendiri yang akan menambah amunisi kekuatan suatu tim dan akan sangat memalukan jikalau suporter Indonesia malah beralih dukungan kepada negara lain.

Maka dari itu, saya sangat mengharapkan dukungan atau sekadar perhatian dari masyarakat Indonesia terhadap tim merah putih. Hargailah mereka yang telah mengharumkan nama Indonesia dengan mengikuti kompetisi ini. Hargailah mereka yang telah berjuang mati-matian sehingga Indonesia dapat lolos ke putaran final Piala Asia.
Ya, saya akui walaupun permainan timnas kita belum sebanding dengan negara-negara lain yang ikut serta dan walaupun di atas kertas kemungkinan lolos ke babak selanjutnya sangatlah kecil. Namun, harapan selalu ada dan harapan itu ada untuk kita gapai. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah swt. sudah menghendaki. Seperti motto saya : ”Who can’t stop our dreams except God and our.” Berjuanglah Indonesia kami akan selalu mendukungmu! Semangat! Bravo Indonesia!!!

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Tuesday, July 3, 2007

Bagaimana Cara Mendapatkan Banyak Comment ?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Saya memutuskan menulis tema di atas menanggapi tulisan teman saya Shirei di blognya. Ketika membacanya, saya merasa tertarik untuk menulis tema ini.

Shirei mengatakan bahwa kebanyakan blogger di Indonesia jarang sekali melakukan blogwalking dan lebih memilih menyendiri dalam dunia maya. Sedangkan yang memang sudah melakukan blogwalking, seringkali hanya meninggalkan jejak di shoutbox tanpa menulis comment atau bahkan membaca postingannya. Hal ini menyebabkan para blogger yang rajin update, blogwalking maupun menulis comment menjadi bertanya-tanya. Bagaimana caranya membuat blogger lain tertarik membaca postingan kita dan memberikan comment? Pertanyaan ini juga muncul dalam benak saya yang seorang blogger baru.

Saya rasa ada beberapa alasan untuk menjelaskan kenapa hal ini terjadi :
1. Koneksi internet yang lelet : hal ini dapat menyebabkan orang malas menulis comment karena harus menunggu bermenit-menit atau bahkan berjam-jam hanya sekedar untuk membuka form comment. Akhirnya mereka memutuskan untuk menulis komentarnya di shoutbox.
2. Blog terlalu berat : kemarin saya telah menghitung berat blog sesuai anjuran postingan Mas AgusHery di blognya. Dan saya menemukan bahwa blog saya ternyata termasuk golongan berat karena banyak warna merahnya. Untuk memastikannya saya pun sering bertanya pada teman-teman saya di sekolah. Apakah blog saya terlalu berat? Saya rasa dalam kesempatan ini saya juga bertanya hal yang sama pada teman-teman blogger. Mohon tanggapannya.
3. Just blogwalking : mungkin ada beberapa golongan blogger yang memang lebih suka meninggalkan pesan di shoutbox karena alasan praktis atau menambah jaringan teman blog agar lebih banyak yang mengunjungi blog mereka. Ini lebih sering terjadi pada blogger baru yang sedang promosi termasuk saya. Mohon maaf kalau saya jarang menulis di comment. Saya akan berusaha menulisnya.

Nah, setelah merenung beberapa lama, akhirnya saya menemukan permasalahan yang sebenarnya.
“Mungkin ini disebabkan salah satu sifat dasar manusia yaitu ingin dimengerti dan diperhatikan orang lain. Namun, tak mau mengerti orang lain."


Jadi, simpel saja jalan keluarnya yaitu saling mengerti satu sama lain. Di bawah ini ada beberapa saran dari saya bila ingin mendapat banyak comment :
1. Instropeksi diri : mungkin saja blog terlalu berat. Kurangi hal-hal yang kurang bermanfaat.
2. Memperbaiki tema postingan : mungkin postingan kurang menarik dibaca. Ya, kalau hal ini memang relatif sih. Tergantung tipe orang yang membacanya. Ada yang suka, ada juga yang tidak. Kita harus mengerti bahwa selera manusia itu berbeda-beda
3. Tulis comment di blog orang lain : dunia ini bersifat give and take. Jika ingin diberi, memberilah dulu pada orang lain.

Jika memang ada beberapa alasan yang mungkin tidak dapat dihindari seperti alasan nomor 1, boleh-boleh saja kok menulis di shoutbox. Hal ini lebih baik daripada sekadar lewat saja. Tapi, usahakan menulis komentar tentang suatu postingan. Ini menandakan bahwa kita sudah membaca postingan teman kita. Namun, sekali lagi, alangkah lebih baik menulis komentar pada tempatnya yaitu di comment. Itu lebih terkesan kita menghargai postingan teman kita.

Nah, beberapa saran di atas semoga bermanfaat. Amien. ^_^. Sebagai blogger baru saya juga minta kritik dan sarannya. Terima kasih.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Saturday, June 30, 2007

Naik, Naik, ke Puncak Gunung

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ya, itulah komentar yang saya ucapkan ketika membaca halaman pertama harian Suara Merdeka edisi Jum’at 29 Juni 2007. Mengapa? Karena halaman pertama terpampang sebuah berita utama yang sangat kontras dengan berita di sebelahnya. Apakah itu? Yaitu berita mengenai anggota DPR RI yang meminta kebijakan penambahan penghasilan (insentif) untuk setiap pembahasan Rancangan Undang-Undang. Wow ! Saya lalu teringat pepatah lama yang mengatakan bahwa ”manusia tak akan pernah puas”.

Saya lalu tertawa kesal ketika melihat berita di sebelah atas, kanan, dan bawahnya.


Deskripsinya :
-Atas : sebuah foto yang menggambarkan sejumlah anak bermain di dekat tanggul bendungan yang jebol di alur sungai kali Opak, Kretek, Bantul.
-Kanan : berita mengenai ratusan korban lumpur Lapindo yang beberapa hari berada di Jakarta untuk menuntut hak mereka, yaitu ganti rugi untuk kerugian yang mereka dapat akibat lumpur Lapindo.
-Bawah : berita mengenai pelarangan pesawat terbang Indonesia beroperasi di wilayah udara Eropa.
-Bawahnya lagi : berita mengenai kekerasan yang dialami oleh TKI kita di Malaysia, Ceriyati.

Huh, saya mendengus kesal. Kesaalll sekalliii... Bagaimana tidak? Sementara rakyat kita sedang menderita, para anggota DPR dengan enaknya meminta tambahan penghasilan. Padahal gaji mereka yang Rp. 4.200.000,00 belum ditambah tunjangan-tunjangan lain itu sudah sangatlah mencukupi. Lagipula belum tentu tugas mereka sebagai penyalur aspirasi masyarakat mereka laksanakan dengan baik.

Saya yakin mereka yang menuntut penambahan penghasilan tidak pernah sekalipun melihat ke bawah. Mereka tidak pernah mengetahui secara langsung penderitaan rakyat yang berjuang untuk medapatkan secuil uang. Saya yang setiap hari berangkat dan pulang naik angkutan selalu merasa kasihan melihat para sopir angkutan yang berwajah lesu. Tidak jarang saya mendengar keluhan mereka bahwa uang setorannya kurang dan harus ditutup dengan uang mereka sendiri. Lalu darimana mereka menghidupi keluarga mereka? Saya tidak tahu.

Saya ingin sekali melihat sekali waktu para anggota DPR berangkat ke kantor maupun pulangnya menggunakan angkutan umum, becak atau bahkan jalan kaki. Saya ingin mereka melihat bahwa di luar kaca mobil mereka yang mewah itu terdapat rakyat-rakyat yang sepenuhnya mempercayakan nasibnya pada mereka. Rakyat-rakyat yang menunggu aspirasi mereka disalurkan dengan sebaik-baiknya. Rakyat yang menunggu perbaikan kualitas hidup mereka menjadi lebih baik.

Maka dari itu, sangatlah lucu jika para anggota DPR meminta tambahan penghasilan padahal kinerja mereka belumlah baik. Bukankah seharusnya mereka lebih mengutamakan kesejahteraan rakyat daripada kesejahteraan mereka sendiri? Bukankah DPR itu bekerja untuk rakyat? Bukankah arti demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat?

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...

Saturday, June 23, 2007

Menyontek : Budaya Asli Indonesia ?

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pertanyaan di atas membuat saya berpikir. Mungkin memang benar juga. Soalnya, coba lihat dari hal-hal yang kecil, seperti : menyontek waktu ulangan!!! (hayoo... siapa yang masih nggak ngaku kalo waktu ulangan sering nyontek?) Ya, saya akui, saya pun pernah menyontek dikarenakan tidak belajar waktu ulangan. :p hehehe...

Tapi, jauh di dalam lubuk hati saya, saya merasa kalau menyontek itu sama sekali nggak ada manfaatnya (bertobat). Ya, mungkin sekadar dapat nilai yang oke. Tapi, apakah ilmu yang kita cari itu bisa masuk ke dalam otak kita? Apa yang akan kita terapkan pada hidup kita jika kita tidak mengerti apapun? Bagaimana moral bangsa kita kalo generasi mudanya tidak mandiri dan tidak mau berusaha seperti ini? Lalu, akan jadi apa bangsa ini jika segalanya berasal dari kerja keras orang lain? Akankah negeri ini selalu menjadi negerinya koruptor yang maunya enak tanpa kerja keras? >_<

Kalo ngomong soal contek-menyontek sih. Memang tidak semuanya ada di generasi muda. Coba kita tengok para sineas kita yang dengan bangganya mempersembahkan sekitar 50-an sinetron hasil jiplakan (menurut data yang saya peroleh) yang entah dengan izin atau tidak. Dan hal ini semakin hari semakin menyebar bagaikan jamur di musim hujan. Saya benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa mereka tidak memiliki secuil pun ide-ide yang masih fresh tanpa campur tangan film-film yang sudah populer.

Jika ada sinetron atau film yang masih fresh pun, paling tentang percintaan, persaingan yang tidak sehat, atau bahkan tentang budaya asli Indonesia yang lain : keluarga hantu (genderuwo, kuntilanak, pocong, dan teman-temannya). Saya pun terkadang merasa kasihan pada hantu-hantu tersebut. Kenapa? Sebab seandainya mereka benar-benar berwujud, mereka pasti digaji dengan harga yang sangat mahal dan menjadi artis terkenal layaknya Dian Sastro atau Nicholas Saputra. Hehehe...

Jenis-jenis sinetron atau film di atas memang sama sekali tidak mengandung makna hidup yang sebenarnya yaitu bahwa dalam hidup diperlukan sikap optimis, pantang menyerah, kerja keras, semangat bersaing (tentu dengan cara yang sehat) dan makna hidup yang lain. Tidak heran bahwa sekarang banyak orang atau bahkan anak sekolah yang rela mengorbankan hidupnya (red:bunuh diri) hanya karena masalah-masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan akal sehat.

Karena hal itu, saya benar-benar sudah tidak berminat lagi dengan sinetron Indonesia. Saya lebih suka menonton film kartun semacam Avatar, Naruto, atau bahkan Tom n Jerry (ya, walaupun saya sudah tidak pantas menontonnya lagi) yang lebih sarat akan makna kehidupan atau pertandingan olahraga, seperti sepakbola, bulutangkis, voli, dll yang mengajarkan bahwa untuk menang diperlukan kerja keras. Walaupun begitu, saya berharap ada perbaikan yang berarti pada sinetron-sinetron dan film-film Indonesia. Ya, setidaknya jangan menyontek dan menampilkan "artis-artis yang tidak berwujud". Berilah contoh nyata yang baik kepada generasi muda bahwa tanpa menyontek pun film kita bisa masuk nominasi festival film internasional misalnya. Amien.

Wassalamualaikum Wr. Wb.
Read more...